IMPLIKASI LIBERALISME EKONOMI DAN POLITIK TERHADAP GERAKAN KEAGAMAAN

Penulis: Ni Wayan Supadmi

Editor: Ardi

Pengantar: TGH. Mujiburrahman, M.Pd. (Wakil Wali Kota Mataram)

Sinopsis: Buku ini mengangkat tema tentang teori konstruksi sosial yang diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Dalam pembahasannya, buku ini menjelaskan bagaimana masyarakat sebagai realitas objektif terbentuk melalui tahapan eksternalisasi, objektifikasi, dan internalisasi. Buku ini juga menguraikan bagaimana realitas sosial dibangun dan diterima oleh individu melalui interaksi sosial, serta bagaimana nilai-nilai dan norma sosial menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini juga menyajikan penelitian mengenai toleransi antar umat beragama di Desa Giri Madia, Lingsar, yang menunjukkan betapa pentingnya saling menghormati keyakinan agama tanpa mengorbankan prinsip masing-masing. Dalam penelitian ini, kehidupan masyarakat desa yang terdiri dari pemeluk agama Islam dan Hindu menggambarkan sikap toleransi yang kuat melalui berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, seperti silaturahmi, membantu dalam perayaan hari besar agama, serta berkolaborasi dalam kegiatan bakti sosial. Teori konstruksi sosial digunakan sebagai kerangka untuk memahami bagaimana interaksi sosial di desa ini membentuk norma-norma kehidupan yang harmonis. Melalui pendekatan ini, buku ini mengungkapkan pentingnya pengaruh konstruksi sosial dalam menciptakan keberagaman yang damai dan saling menghargai, dengan menekankan pada nilai-nilai seperti kerja sama, penghargaan terhadap perbedaan, dan silaturahmi antar umat beragama. Melalui buku ini, kita diajak untuk menyadari bahwa dalam kehidupan yang semakin plural ini, rasa toleransi, penghargaan terhadap perbedaan agama, budaya, suku, dan ras, adalah kunci untuk menciptakan kedamaian sosial. Moderasi beragama yang digagas pemerintah Indonesia merupakan langkah strategis untuk mendorong masyarakat hidup dengan saling memahami dan menghindari konflik yang muncul akibat perbedaan tersebut. Oleh karena itu, buku ini patut dibaca dan dijadikan referensi oleh berbagai kalangan, baik pendidik, mahasiswa, maupun masyarakat umum, untuk memperkuat komitmen kita dalam menjaga kerukunan dan kedamaian di tengah keberagaman yang ada.

Ni Wayan Supadmi lahir di Sukawati, Gianyar, pada 15 Oktober 1977. Saat ini berdomisili di Gegelang, Majapahit, Lingsar, Lombok Barat. Dia menyelesaikan studi pendidikan dasar di SDN 1 Sukawati dan lulus pada 1989, kemudian melanjutkan ke SMPN 2 Sukawati pada 1992. Pendidikan menengah atas ditempuh di Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) Depkes Denpasar dan dituntaskan pada 1995, yang menjadi fondasi awal ketertarikannya pada bidang layanan kesehatan. Perjalanan profesionalnya berkembang seiring penguatan kapasitas akademik. Di tengah aktivitas kerja, ia tetap konsisten melanjutkan pendidikan formal. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelesaian studi jenjang sarjana (S1) pada STIKES Hamzar dengan mengambil jurusan Profesi Bidan pada 2021. Minatnya kemudian meluas pada ranah keilmuan yang bersifat sosial dan komunikasi, sehingga ia melanjutkan studi magister (S2) di Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram mengambil jurusan studi Komunikasi dan Penyiaran Islam pada 2023-2025. Tidak berhenti di sana, semangat belajarnya terus berlanjut. Setelah menyelesaikan studi magister pada tahun 2025, ia melanjutkan pendidikan doktoral (S3) di UIN Mataram mengambil jurusan Studi Islam (2025 – sekarang). Rangkaian perjalanan pendidikan ini menunjukkan karakter yang tekun, adaptif, dan berorientasi pada pengembangan diri, sekaligus memperlihatkan upaya berkelanjutan untuk mengintegrasikan pengalaman profesional dengan penguatan keilmuan lintas bidang. Perjalanan karirnya dimulai pada1996 sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Dinas Kesehatan Kota Mataram. Tak lama kemudian, ia mengikuti suami yang bertugas di Timor Timur bertugas di Rumah Sakit Wira Husada. Pada tahun 1997, ia pindah ke Puskesmas Karang Taliwang di Kota Mataram, di mana ia menjalani tugas dari 1997 hingga 1999.Perjalanan karirnya kemudian berlanjut dengan pindah tugas ke Puskesmas RasanaE Barat di Kota Bima, di mana ia bekerja selama lima tahun, dari 1999 hingga 2004. Setelah itu, ia kembali ke Kota Mataram dan bertugas di Puskesmas Ampenan selama setahun, dari 2004 hingga 2005. Keinginannya untuk terus berkembang membawanya ke Dinas Kesehatan Kota Mataram, tempat ia mengabdi dari tahun 2005 hingga 2011.
Pada tahun 2011 hingga 2013, ia kembali bertugas di Puskesmas Tanjung Karang, kemudian pindah di Puskesmas Babakan dari 2011 hingga 2021. Setelah lebih dari dua dekade berkarir sebagai bidan, pada tahun 2021 ia melangkah ke luar profesinya yang semula di bidang kesehatan. Ia mulai bertugas di Sekretariat DPRD Provinsi NTB, memulai babak baru dalam perjalanan karirnya.Tidak berhenti di situ, pada 2024 hingga 2025, ia mendapatkan penugasan di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana. Sebuah langkah yang semakin memperluas pengalamannya dalam bidang pemerintahan. Memasuki tahun 2026 hingga sekarang, ia kembali menunjukkan dedikasinya, kali ini di Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTB. Setiap langkah dalam karirnya mencerminkan komitmen yang kuat terhadap pelayanan publik, serta dedikasinya untuk terus berkontribusi bagi masyarakat dan negara. Dia memiliki pengalaman aktif di berbagai organisasi seperti kesenian mulai dari seni pertunjukan hingga seni rupa. Ia aktif sebagai penari baik pada ranah tradisi maupun kontemporer serta terlibat dalam kegiatan fashion show. Di bidang pengembangan citra dan pembinaan, ia dipercaya sebagai pembina Wajah Syar’i Indonesia dan berhasil meraih penghargaan dalam ajang WSI (Wajah Syar’i Indonesia). Di ranah organisasi, ia tercatat sebagai pengurus Dewan Kesenian Lombok Barat, pengurus pada Komunikasi Lukis Cat Indonesia (KOLCAI), serta menjadi anggota International Watercolor Society (IWS). Pengalaman kreatifnya juga diperkuat melalui perannya sebagai founder Yanami Juan Home dan Galery, yang menjadi ruang pengembangan karya sekaligus jejaring apresiasi seni. Jejak pamerannya terbentang luas dan menunjukkan intensitas yang tinggi dari tahun ke tahun, mencakup pameran kelompok, pameran tematik, hingga pameran tunggal. Pameran yang pernah diikuti antara lain LCC (2016), Epicentrum Mall (2016), Hotel Santika Lombok (2016), Hotel Santika Depok (2016), Taman Budaya NTB (2016), Pameran Nasional di Griya Santrian Sanur Bali (2016), Universitas Taruna Negara Jakarta (2016), Pameran Jeglek Tangi Melek di Mojokerto (2017), Pameran Tunggal di Hotel Santika Lombok (2017), Pameran di Kodam IX Udayana (2017), Pameran di Tembi Yogyakarta (2018), Pameran Kunjungan Ibu Panglima TNI di Benoa Bali (2018), Pameran Asian Games di Surabaya (2018), Pameran Nasional di Solo (2018), Pameran di Museum Affandi Yogyakarta (2018), Pameran Tunggal ke-II di Hotel Santika Mataram (2018), Pameran di Balai Budaya Jakarta (2019), Pameran di Bandara Internasional Lombok (BIL) (2019), Pameran di RSUD Kota Mataram (2019), Pameran di Taman Budaya Jawa Tengah (2019), The Spirit The Mulia Resort & Villas, Nusa Dua Bali (2019), Kemilau Reog Ponorogo (2019), Terkadang Kita Lupa (Yogyakarta, 2019), Covid Affects (2020), Budaya Lombok Bandara Internasional Lombok (2020), Wira Kriya Milinilal (2020), Gerai Angkasa Fair (2020), Happy Holiday from the Summit (2020), Korem Wira Bhakti (2020), Pasar Seni Lukis (Surabaya, 2021), Bertumbuh (Yogyakarta, 2021), Pahlawanku (BIL, 2021), Welcome Senggigi (2012), Mandalika The Royal Box (2022), Deru Grand Prix Mandalika (2022), New Day Come (Jakarta, 2023), Kata Kreatif (2024), serta Aku Indonesia (Bandung, 2025).


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *