Islam+Sains=Peradaban

Editor: Lailatul Munawarah, S.Pd

Biodata Penulis:

Mohamad Khoiril Anwar, lahir di Semambung Kidul Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur, 09 April 1990. Menamatkan Madrasah Ibtidaiyah/MI Miftahul Jinan Semambung, 2002. Setalah tamat MI melanjutkan ke pondok pesantren sebagai santri sekaligus menempuh pendidikan formal, Madrasah Tsanawiyah/MTs pondok pesantren Mamba’ul Ma’rif Denanyar Jombang 2002-2005. Madrasah Aliyah Negeri/MAN pondok pesantren Mamba’ul Ma’rif Denanyar Jombang, 2006-2009. Melanjutkan kuliah Strata Satu (S1) UIN Sunan Ampel Surabaya 2010-2014 dan mendapatkan beasiswa dari Djarum Foundation. Setelah tamat S1, melanjutkan ke jenjang Magister (S2) Agama dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2014-2018. Tahun 2019 diterima sebagai dosen Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram.   Pengalaman organisasi yang telah diikut diantaranya adalah 1) Anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), 2) Anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan, 3) Anggota dan pengurus pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate/PSHT,  4) Anggota GP Ansor NU Desa Semambung Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo.

Muhammad Zaki, lahir di Otak Kebon pada 02 Februari 1992, merupakan seorang pendidik serta pengelola lembaga pendidikan yang berdomisili di Otak Kebon, Desa Beririjarak, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur, NTB. Ia menempuh pendidikan formal mulai dari SDN 04 Beririjarak, MTsN 03 Lombok Timur, dan MA NW Mertak Nao, sebelum melanjutkan pendidikan tinggi Strata Satu di STAI Darul Kamal NW Kembang Kerang dan kemudian meraih gelar Magister pada Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Pascasarjana UIN Mataram. Latar belakang akademiknya tersebut menjadi fondasi penting dalam pengembangan kompetensi, wawasan keilmuan, serta penguasaan metodologi penelitian dalam studi Al-Qur’an dan keislaman kontemporer. Karier profesionalnya dibangun melalui pengabdian sebagai Kepala Sekolah SMP IT NW Otak Kebon dari tahun 2016 hingga 2022, sebuah periode di mana ia aktif memimpin, mengembangkan program pendidikan, dan menciptakan kultur sekolah yang progresif. Setelah itu, sejak tahun 2023 hingga sekarang, ia dipercaya menjadi Kepala Sekolah SMA Plus Aswaja NW Beririjarak, tempat ia terus memperkuat manajemen pendidikan, mengoptimalkan mutu pembelajaran, serta berkomitmen menghadirkan inovasi dalam pengembangan sekolah. Dengan dedikasi yang kuat terhadap dunia pendidikan serta komitmen pada penguatan literasi dan keilmuan Islam, ia terus berupaya memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan dunia akademik. Ia dapat dihubungi melalui email zakyumy167@gmail.com atau nomor telepon 081938803575.

Zakaria Al Ansori, di kalangan akademisi, sahabat, dan para peziarah intelektual lebih dikenal dengan sapaan Jack lahir di Praya, sebuah kota kecil yang tampak biasa, tetapi menyimpan lanskap batin yang subur bagi lahirnya kegelisahan filosofis. Di sanalah ia pertama kali berjumpa dengan paradoks hidup: kesederhanaan yang sarat pertanyaan, tradisi yang mapan namun rapuh, serta iman yang diwariskan tetapi menuntut pengujian. Sejak dini, Jack menunjukkan watak khas seorang pencari makna: jawaban bukan untuk diterima, melainkan untuk dipersoalkan kembali. Pendidikan formalnya ditempuh di SD Gerintuk Renteng Praya, SMP Negeri 1 Praya, dan SMA Negeri 1 Praya. Namun pendidikan yang paling menentukan justru berlangsung di luar kurikulum: di antara buku-buku filsafat, diskusi panjang, dan kegelisahan eksistensial yang terus menyala. Pencarian itu membawanya ke Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, untuk mendalami filsafat. Di sana, pemikir-pemikir besar menjadi mitra dialog yang tak selalu ramah. Nietzsche mengajarinya kecurigaan terhadap moralitas mapan dan keberanian menggugat nilai. Heidegger memperkenalkannya pada Dasein manusia sebagai keberadaan yang selalu berada dalam proses menjadi. Sartre menegaskan bahwa manusia “dikutuk untuk bebas”, dan karena itu tak pernah bisa bersembunyi dari tanggung jawab eksistensialnya. Dari perjumpaan dengan eksistensialisme dan aroma pascamodern inilah Jack belajar bahwa hidup bukanlah sistem tertutup, melainkan medan pertarungan makna. Ketika gagasan liquid modernity Zygmunt Bauman memasuki horizon pikirannya, kegelisahan itu menemukan artikulasi sosialnya: dunia yang cair, relasi yang rapuh, identitas yang mengambang, dan kepastian yang terus mencair. Di titik inilah perhatian Jack mengarah pada persoalan yang lebih luas: bagaimana iman, sains, dan peradaban bernegosiasi dalam dunia yang kehilangan jangkar. Sekembalinya ke Mataram, Jack mengajar di berbagai perguruan tinggi sebelum menetap sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram. Ia mengampu mata kuliah Islam, Sains, dan Peradaban, sebuah ruang akademik yang ia jadikan medan dialog kritis antara wahyu, rasionalitas ilmiah, dan tantangan kemanusiaan kontemporer. Di kelas-kelasnya, agama tidak diperlakukan sebagai dogma beku, dan sains tidak dipuja sebagai berhala baru; keduanya dibaca sebagai proyek etis yang menentukan arah peradaban. Dalam buku kompilasi tugas S3 mata kuliah Islam, Sains, dan Peradaban, Jack menyumbang tulisan berjudul “Membaca Hubungan Islam, Sains, dan Peradaban melalui Teleskop Ian Barbour”, sebuah refleksi filosofis yang menempatkan relasi iman dan ilmu dalam spektrum konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Tulisan ini menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk merumuskan sintesis kritis antara keimanan religius dan tanggung jawab intelektual di era modern. Saat ini, Zakaria Al Ansori tengah menyelesaikan studi doktoralnya (Ph.D.) di bidang Studi Islam. Ia terus menulis, mengajar, dan bertanya bukan demi kenyamanan intelektual, melainkan demi menjaga agar pemikiran tetap hidup, resah, dan bertanggung jawab di hadapan zaman.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *